Friday, December 22, 2006

PGRI Kota Arang

PGRI Kota Arang
GUNA meningkatkan kualitas pembelajaran serta mutu lulusan menjadi lebih baik, SMA PGRI Kota Sawahlunto masih membutuhkan penambahan fasilitas dan sarana prasarana pendukung. Bayangkan saja, saat ini untuk perpustaan, komputer, dan UKS diramu dalam satu ruangan saja.
Pada hal, untuk mentransfer materi pembelajaran dengan baik dibutuhkan kondisi lingkungan yang benar-benar memadai. Diakui atau tidak, lingkungan dan ruang kelas tempat belajar sangat mempengaruhi proses pembelajaran, dalam mencapai tujuan pendidikan.
Sekolah yang memiliki visi menjadi sekolah yang berkualitas di bidang akademik dan ekstrakurikuler berlandaskan iman dan taqwa itu, saat ini telah memiliki 25 unit komputer semenjak 6 bulan silam. Namun, karena keterbatasan ruang dan kelas, komputer yang seharusnya berada dalam satu ruang labor yang dilengkapi AC tersebut agar terawat, harus bercampur dulu dengan perpustakaan dan UKS.
Selain sarana dan prasarana, SMA PGRI yang merupakan sekolah swasta di Kota Arang sendiri juga mengalami kendala dari segi pendanaan. “Saat ini kita harus memanfaatkan dana SPP dan pembangunan untuk biaya operasional sekolah, terutama untuk pembiayaan honor pada guru,” tutur Kepala Sekolah SMA PGRI Sawahlunto, Firman, kepada “Haluan”, di sela-sela kesibukkannya.
Menurut Firman, pihaknya harus memanfaatkan dana SPP dan uang pembangunan untuk operasional sekolah demi kelangsungan pendidikan yang mereka lakukan. Memang, katanya, secara umum pembangunan tidak hanya berupa fisik, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk non fisik.
Perhatian Pemko Sawahlunto sendiri, lanjutnya, sudah sangat maksimal. Mulai dari pembangunan ruang labor IPA yang telah dimanfaatkan, serta rencana pada 2007 akan adanya pembangunan gedung perpustakaan.
“Kita sangat berterima kasih kepada Pemko Sawahlunto yang telah memberikan perhatian besar kepada sekolah ini. Namun masih ada sarana dan prasarana pendukung yang perlu dilengkapi,” ujar pria yang berpostur tubuh tinggi itu.
Di sisi lain, katanya, SMA PGRI sendiri telah memiliki klasifikasi nilai A untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan klasifikasi B untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia pada Ujian Nasional. Sedangkan mata pelajaran ekonomi masih tertinggal dengan klasifikasi nilai C.“Untuk Bahasa Indonesia dan ekonomi kita memang sedikit tertinggal dan akan terus digenjot, sehingga dapat sama dengan mata pelajaran Bahasa Inggris,” ujar Firman

Historis PGAN 6 Tahun Kolok

HISTORIS PGA N 6 TAHUN KOLOK KOTA ARANG

DULU mengecap pendidikan di bangku sekolah Pendidikan Guru Agama yang disebut PGA, merupakan suatu hal yang sangat membanggakan. Bahkan, boleh dikatakan setara dengan kebanggaan orang tua yang melihat anaknya kuliah di masa kini. Mungkin di hati para guru agama yang saat ini telah menginjak usia 50-an, PGA boleh dikatakan suatu kata yang tidak asing lagi.
Keberadaan guru-guru agama saat ini, bisa dikatakan tidak lepas dari peran dan kehadiran PGA di masa silam. Sedikit goresan sejarah berdirinya PGA di Kota Sawahlunto, tepatnya di Nagari Kolok yang banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan pendidikan agama di Kota Sawahlunto dan daerah tetangga.
Berdirinya sekolah PGAN di Nagari Kolok Sawahlunto, merupakan rentetan dan lanjutan perkembangan pendidikan agama dan keagamaan di Nagari Kolok, dengan melalui lima waktu pertukaran zaman, baik pemerintahan mau pun penjajahan.
Sekitar tahun 30-an, pendidikan agama di Nagari Kolok berjalan dari surau-surau secara tardisional dengan halaqah-halaqah dan zawiyah-zawiyah yang disebut dengan mengaji kitab. Setelah adanya pembaharuan pendidikan agama di Minangkabau dengan berdirinya Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Beberapa anak nagari Kolok pun menuntut ilmu pendidikan agama ke Sumatera Thawalib di Kota Serambi itu. Tepatnya, Agus Salim Karimudo, anak nagari Kolok itu mendapatkan title diplomanya di sana.
Sepulangnya, timbullah hasrat untuk mendirikan sekolah agama dan diusahakan pembangunan gedungnya pada tahun 1936. Berselang satu tahun, sekolah agama pun berdiri dengan nama Madrasah Durusul Islamiah, yang menganut sistem pengajaran sesuai dengan Sumatera Thawalib Padang Panjang, dengan pimpinan Agus Salim Karimudo.
Enam tahun berjalan, tepatnya 1942 tentara Jepang sampai ke Sumatera Barat. Walau zaman pendudukan Jepang membawa penderitaan pahit bagi masyarakat Minangkabau, tidak membuat perjalanan madrasah terhenti, bahkan mampu menamatkan muridnya untuk pertama kali. Akan tetapi, begitu gigihnya Agus Salim Karimudo dalam berjuang, pimpinan madrasah pun diserahkan kepada M.Zen Siman Pandito Kayo. Meski berjalan, pendidikan agama di sekolah cikal bakal PGA itu harus disesuaikan dengan suhu udara pemerintahan Jepang, dan nama sekolah pun diubah menjadi Madrasah Islamiah Nagari Kolok yang berjalan hingga tahun 1948.
Kekalahan Jepang oleh sekutu pada tahun 1948, membuat Belanda kembali melancarkan agresi ke II ke Indonesia. Dalam masa genting saat itu, seluruh penduduk Nagari Kolok harus mengungsikan diri ke hutan-hutan, dan rumah sedikitnya 400 unit pun dibumihanguskan oleh tentara Belanda.
Tak pelak, kondisi tersebut membuat Madrasah Islamiyah bersama sekolah-sekolah lainnya di Kota Sawahlunto harus ditutup sementara. Akan tetapi, di pengungsian yang agak tetap, madrasah kembali dibuka secara darurat.
Memasuki zaman pemulihan di awal 1950-an, seluruh pengungsi kembali ke kampung di mana rumah-rumah yang sebagian besar telah rata dengan tanah, akibat aksi beringas tentara Belanda. Namun lain halnya dengan madrasah, bangunan yang dulunya digunakan luput dari keganasan kolonial Belanda itu. Awal tahun 1951, Madrasah Islamiyah kembali aktif dengan pimpinan kembali di tangan Agus Salim Karimudo, besertakan murid yang menggembirakan hingga 1959. Kemajuan pun bertambah, Madrasah Islamiyah mendapat bantuan subsidi dan terdaftar pada Direc. Pendidikan Agama Kementerian Agama RI kala itu.
Akan tetapi, sejalan dengan dipanggilnya Agus Salim Karimudo oleh Sang Pencipta, serta adanya pergolakan PRRI. Agus Salim Karimudo sendiri juga sempat terancam jiwanya, meski pun tidak ikut serta, tetapi dicurigai karena maklum zaman itu dikuasai PKI. Akhirnya, dilengkapi dengan kurangnya kemampuan untuk meneruskan sekolah, dan ditutup hingga 1962.
Di tahun 1963, Madrasah Islamiyah kembali dibuka. Sesuai dengan rencana pemaharuan pendidikan agama kala itu, maka atas anjuran Kepala Inspeksi Pendidikan Agama Kabupaten Sawahlunto Sijunjung M.Zen Hakim, madrasah pun bertukar nama menjadi Pendidikan Guru Agama Swasta 4 Tahun Nagari Kolok dengan mengikuti kurikulum PGA Negeri, dan disahkan pada 16 Maret 1964.
Mendapat dorongan dan sambutan masyarakat yang sangat baik, PGA Swasta berusaha merubah status swasta menjadi negeri. Berselang empat tahun, pada 8 Juli 1968 PGA swasta telah berubah menjadi PGA Negeri 4 Tahun, dengan SK Menteri Agama RI No.72 Tahun 1968.
Pesatnya pendidikan di PGAN 6 Tahun Kolok serta membludaknya murid yang datang dari berbagai daerah memberikan nilai tersendiri bagi sekolah pencetak guru agama itu. Memasuki 1970 PGAN 4 Tahun kembali ditingkatkan menjadi PGAN 6 Tahun oleh Kepala Jawatan Pendidikan Agama Sumatera Barat berdasarkan SK Menteri Agama RI No.141 Tahun 1969. PGAN 6 Tahun Kolok ternyata memberikan daya tarik bagi masyarakat daerah tetangga. Mulai dari Solok dengan Sulit Air, Paninjauan, Tanjung Balit serta X Koto Diatas, serta Kabupaten Tanah Datar dengan Padang Ganting, Saruaso, Tanjung Emas.
"PGAN dulu muridnya datang dari berbagai daerah, mulai dari Solok, Batusangkar, hingga Sijunjung. Boleh dikatakan PGAN 6 Tahun Kolok bagaikan kampus di masanya. Tapi kini hanya kenangan, mungkin hanya tersisip di hati para guru agama yang saat ini telah beranjak ke usia tua di Kota Sawahlunto ini," ujar Ketua KAN Kolok, Jasril Dt. Paduko Suanso.
Kejayaan PGAN 6 Tahun Kolok harus berakhir dengan keluarnya Keputusan Departemen Agama yang menghapus PGAN 6 Tahun. Dihapus, dan menjadi MTSN dan MAN semenjak ajaran 1978. Kedua sekolah tersebut dipimpin Zainal Arifin Dt. Rangkayo Tangah. Namun, pada tahun 1980, seiring dengan perkembangan dan MAN pun belum mendapat tempat di hati masyarakat, muridnya pun kian hari kian menciut. MAN pun direlokasi ke Muaro Labuah dalam sekejap. MTSN pun turut menerima imbas atas kepindahan sekolah lanjutannya itu.
Saat ini, gedung PGAN 6 Tahun Kolok telah dimanfaatkan masyarakat untuk Lembaga Pendidikan Swasta tingkat dasar yakni MDA, yang tetap berjalan hingga saat ini. ***

Korda ESQ 165 Kota Arang Dikukuhkan

Korda ESQ 165 Kota Arang Dikukuhkan
KOORDINATOR Wilayah ESQ 165 Sumbar H.Herman Nawas mengukuhkan Mustav Sjab selaku Ketua Korda Forum Komunikasi Alumni ESQ Kota Sawahlunto, di Aula PTBA, Senin (11/12) malam. Pembentukan korda forum komunikasi alumni ESQ Sawahlunto merupakan korda pertama untuk tingkatan kabupaten dan kota di Ranah Minang.
Beberapa tahun belakang, ESQ memang mulai memasyarakat di Ranah Minang. Training ini mengajarkan manusia untuk mengetahui kemana arah dan tujuan hidup manusia yang sebenarnya. Sebab diakui atau tidak tidak ada satu mahluk pun yang kekal di dunia ini.
Herman Nawas dalam acara tersebut mengatakan ESQ bertujuan untuk mengetahui asal dan tujuan, mau kemana langkah dan tujuan hidup insan manusia akan dilangkahkan. Jika setiap manusia telah mengetahui dari mana manusia berasal dan kemana tujuan yang akan ditempuh, Insya Allah semua insan manusia tidak akan lagi mementingkan harta benda, pangkat jabatan serta penghormatan.
Dalam acara yang dihadiri sedikitnya 600 orang itu, baik masyarakat umum maupun alumni ESQ sendiri, serta Trainer kondang yakni Legisan Tugimin itu, direncanakan dalam waktu dekat akan dilakukan in hause training untuk peduli pendidikan di Kota Sawahlunto.
"Kita rencanakan in hause training peduli pendidikan untuk yang pertama kali di Balai Diklat Tambang Bawah Tanah. Mengapa pendidikan, karena dunia pendidikan salah satu titik awal pembentukan dan pengembangan seorang anak manusia," ujar Wakil Sekretaris Korda ESQ Sawahlunto, Mayrizal, usai acara.
Sementara itu, selain mengukuhkan Korda Forum Komunikasi Alumni ESQ, Herman Nawas juga menyempatkan diri mengunjungi Walikota Sawahlunto, Ir.H. Amran Nur. Walikota Sawahlunto dalam waktu dekat dikabarkan akan mengikuti training ESQ di Kota Jakarta.
Dengan berdirinya forum komunikasi ESQ di Kota Arang, dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan perkembangan daerah ke arah yang lebih maju di masa yang akan datang. Setidaknya dapat membantu pemerintah dalam mengayomi masyarakatnya.

Tanya Nyali Pemerintah Kota Arang

Tanya Nyali Pemerintah Kota Arang
KETUA Fraksi Amanat Demokrat Keadilan DPRD Sawahlunto Andrio AN mempertanyakan keberanian dan tindakan tegas Pemko Sawahlunto dan Dinas Pekerjaan Umum, menyikapi pelaksanaan proyek-proyek fisik yang belum tuntas hingga akhir tahun anggaran 2006. Sebab, secara aturan massa anggaran berlaku dari 1 Januari hingga 31 Desember.
"Masih banyak proyek fisik yang belum tuntas pengerjaannya. Mulai dari pembangunan gedung bangsal bedah RSU, beberapa puskesmas pembantu, jembatan. Pemko dan dinas terkait harus melakukan tindakan tegas kepada kontraktor yang mengambil proyek," ujar Ketua Fraksi Gabungan Amanat Demokrat Keadilan, Andrio AN kepada "Haluan", di gedung wakil rakyat.
Menurut pria kelahiran 29 tahun silam itu, tidak ada alasan bagi kontraktor untuk mengatakan keterlambatan dalam mengerjakan proyek yang telah mereka menangkan sesuai dengan waktu dan nilai kontrak. Jika tidak sanggup, tentu Pemko atau dinas terkait memiliki hak untuk memutuskan kontrak dan menjatuhkan sangsi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Pembayaran nilai kontrak, lanjut Andrio, dapat disesuaikan dengan bobot pekerjaan yang telah dilakukan. Sebab jika tidak dilakukan, justru akan menimbulkan masalah di belakang hari. Terkait masalah perawatan, masih kata Andrio, secara logika perawatan akan dilakukan setelah proyek selesai. Jika belum selesai, namanya pembangunan, bukan perawatan.
"Namun semuanya terpulang kepada keberanian pemerintah dan dinas terkait dalam menindak serta memberikan sangsi. Sebab, jika tidak selesai tahun ini pemerintah dapat memutuskan kontrak dan kembali melanjutkan pada tahun anggaran mendatang. Tentu sisa anggaran dari bobot pekerjaan harus masuk ke kas daerah terlebih dahulu," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Sawahlunto, Ir.Syafaruddin mengatakan pihak telah melakukan beberapa tindakan terhadap kontraktor yang tidak sesuai kontrak. Diantaranya, CV. Mutiara Hitam yang dijatuhkan sangsi pemutusan kontrak dalam proyek pembangunan jembatan Rantih dengan nilai kontrak Rp.525 juta, yang baru selesai 60 persen.
Kontraktor CV. Mutiara Hitam juga diwajibkan melakukan pengembalian uang muka dan jaminan pelaksanaan sebesar 10 persen dari total kontrak dalam bentuk asuransi yang disetor ke kas daerah.
"Kontraktor jembatan Rantih ini juga kita blaklis selama 2 tahun dari tender proyek-proyek yang akan dilakukan ke depan," ujar Syafaruddin.
Terkait dengan proyek fisik pembangunan bangsal bedah di RSU Sawahlunto, Syafaruddin mengaku pengerjaannya telah mencapai angka 85 persen. Namun, apakah dapat diselesaikan pada tahun 2006 atau tidak, semua tergantung kepada kontraktor. "Kita lihat perkambangannya dalam dua tiga hari ini. Jika tidak sanggup, proyek akan langsung distop dan dilanjutkan pada tahun 2007.(

Sanitasi Air Kota arang

Sanitasi Air Kota Arang
DINAS Kesehatan Kota Sawahlunto tawarkan program penyediaan air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat untuk 9 desa/kelurahan dari 37 desa/kelurahan di Kota Arang, seiring dengan semakin sulitnya mendapatkan air bersih yang layak minum saat ini.
Program yang direncanakan dilaksanakan awal tahun 2007 dengan anggaran Rp275 juta untuk satu desa/kelurahan itu, 70 persen dananya berasal dari APBN. Sedangnya sisanya 10 persen dari APBD Kota Sawahlunto, dan 20 persen dari swadaya masyarakat. Swadaya masyarakat terdiri dari 16 persen material dan tenaga, serta 4 persen berupa uang tunai.
"Air yang dikonsumsi masyarakat, baik dari pegunungan, perbukitan atau pun dari sumur, belum terjamin bebas dari bibit penyakit. Dengan program ini, diharapkan sumber-sumber air yang masyarakat miliki dapat dijaga dan dilindungi baik fisik maupun pengelolaannya," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto, dr.Indra,MPPM kepada "Haluan", di sela-sela kesibukkannya.
Beberapa daerah di Kota Arang memang mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih layak konsumsi. Warga Bukit Gadang Kecamatan Talawi misalnya, telah belasan tahun kesulitan mendapatkan air bersih layak konsumsi dan pengairan lahan pertanian.
Selain masalah air bersih layak komsumsi, Bukit Gadang yang didiami sedikitnya 5.600 jiwa itu, juga kesulitan sumber air untuk mengolah lahan pertanian. Selama ini, warga mengolah lahan pertanian dengan mengharapkan air turun dari langit, alias tadah hujan.
Menurut Indra, bagi daerah yang tidak memiliki sumber air akan dibuatkan sumber air baru, mungkin berupa sumur bor, serta penyalurannya hingga ke tengah pemukiman masyarakat. Sehingga masyarakat tidak susah mendapatkan air bersih layak konsumsi.
Terkait dengan masalah swadaya masyarakat, kata pria yang selalu berkacamata itu, ditujukan agar masyarakat ikut berperan serta dalam melaksanakan pembangunan. Dengan sasaran target pemeiharaan, pengelolaan serta tanggung jawab masyarakat benar-benar ada dalam pembangunan.
Dalam sosialisasinya Dinas Kesehatan dengan Lurah dan Kepala Desa se Sawahlunto, secara umum seluruh kepala desa maupun lurah berminat untuk mendapatkan program tersebut. Namun, belum ada yang memutuskan untuk langsung mengusulkan diri.
"Program yang ditawarkan sangat baik. Tetapi, kami harus tanya dulu kepada masyarakat. Sebab, peran serta masyarakat dalam program sangat besar," ujar salah seorang kepala desa, usai sosialisasi.***

Ancang-Ancang Pilkada Kota Arang

Ancang-Ancang Pilkada Kota Arang
UNTUK pelaksanaan pemilihan kepala daerah, Kota Sawahlunto harus belajar dari pengalaman pelaksanaan Pilkada di daerah yang telah dilaksanakan sebelumnya. Belajar dan menjadikan guru pengalaman pilkada sukses dan tidak sukses merupakan langkah terbaik dalam mencapai pemilihan kepala daerah secara demokratis, aman, dan lancar.
"Menjadikan pelajaran dari pengalaman pelaksanaan pilkada dari kabupaten/kota lain, jelas akan memperingan pilkada yang akan dilaksanakan. Tidak ada salahnya menjadikan pelajaran pengalaman daerah untuk mendapatkan hasil yang terbaik," terang anggota KPUD Sumbar, Husni Kamil Manik,SP, mewakili KPU Provinsi Sumbar dalam Workshop Supervisi Persiapan dan Perencanaan Pilkada Berkualitas Kota Sawahlunto, di gedung dewan Kota Arang, Kamis (21/12).
Kabupaten Mentawai, kata Husni, dinilai sudah sangat berhasil dalam pelaksanaan pilkada. Namun, ketika timbulnya masalah dan kesulitan dalam tahapan atau fase pelaksanaan pilkada, mereka tidak tahu ke mana akan berkonsultasi. Sebab, seluruh masalah yang terjadi dalam harus diselesaikan KPUD yang bersangkutan. Sedangkan KPUD Provinsi sendiri bersifat memberikan pengarahan.
Sawahlunto termasuk daerah yang baik dalam menanggapi persiapan pelaksanaan Pilkada. Meski Pilkada baru akan dilaksanakan pada awal 2008 mendatang, tetapi sudah mulai ancang-ancang persiapan pelaksanaan Pilkada. Bisa dikatakan satu tahun persiapan Pilkada merupakan waktu yang cukup untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
"Suatu langkah yang bagus, untuk mempersiapkan tahapan dan fase pelaksanaan. Persiapan lebih awal akan lebih matang, tentu dengan harapan hasil pilkada yang terbaik. Sebab, pilkada akan menetapkan bagaimana calon peserta, penelusuran, hingga ke pengesahan calon dan sosialisasi kepada masyarakat," kata Sekdako Sawahlunto, Zohirin Sayuti,SE ketika membuka workshop secara resmi.
Ketua KPUD Sawahlunto, Syahril Stand,SH mengatakan pelaksanaan workshop ditujukan untuk menyatukan kesamaan pandangan seluruh komponen yang akan terlibat dalam pelaksaan pilkada Sawahlunto tahun 2008.
"Tujuan kita untuk sosialisasi dan mencari solusi dari permasalah-permasalahan yang bakal terjadi dalam pelaksanaan dalam setiap tahapan atau fase pilkada," kata Syahril.
Sementara itu, Sekretaris Komisi A Bidang Pemerintah dan Hukum DPRD Kota Arang, Hasjonni Sy, SE, mengatakan masih cukup banyak waktu bagi KPUD dalam mempersiapkan pilkada Sawahlunto 2008. Namun, hal yang harus dilaksanakan KPUD adalah manajemen dalam penetapan tahapan dan fase serta pelaksanaan tahapan dalam pilkada.
"Jika manajemen dalam penetapan tahapan dan fase tidak dilakukan dengan baik. Justru hal itu yang akan mengancam ketercapaian pilkada yang demokratis, aman dan lancar. Hal ini perlu menjadi catatan khusus bagi KPUD," tambah Hasjonni

Penghargaan Diujung Tahun Buat Kota Arang

Penghargaan Diujung Tahun Buat Kota Arang
Walikota Sawahlunto Ir.H. Amran Nur menerima penghargaan di Istana Negara Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, orang nomor satu di Kota Arang ini akan memboyong dua penghargaan sekaligus yakni, penghargaan Citra Bhakti Abdi Negara dan Citra Pelayanan Prima.
Citra Bhakti Abdi Negara diberikan presiden atas peningkatan kualitas pelayanan publik atau peningkatan pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat. Sedangkan Citra Pelayanan Prima diberikan kepada Puskesmas Silungkang Kota Sawahlunto, sebagai unit kerja yang dinilai memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Sebelumnya, pada tahun 2004, penghargaan Citra Pelayanan Prima juga diterima Puskesmas Talawi.
"Saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada masyarakat Sawahlunto, yang telah memberikan dukungan penuh terhadap program-program yang diselenggarakan pemerintah. Pemerintah tidak ada apa-apanya tanpa adanya dukungan dan peran serta dari masyarakat," ujar Walikota Sawahlunto, Amran Nur, sebelum berangkat ke Jakarta untuk menerima penghargaan.
Penghargaan yang diperoleh, lanjut Putra Talawi itu, merupakan untuk dan hak masyarakat Sawahlunto. Karena peran masyarakatlah penghargaan dapat diterima. Jadi penghargaan yang didapatkan merupakan penghargaan untuk masyarakat Kota Sawahlunto.
Meski telah mendapatkan berbagai penghargaan, Amran Nur mengharapkan masyarakat tidak puas begitu saja dan terlena atas keberhasilan yang telah diraih. Masyarakat tentunya, perlu terus memberikan dorongan dan meningkatkan peran serta dalam pembangunan yang akan dilaksanakan. Sebab, seluruh program yang dilaksanakan akan bermuara kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat sendiri.
Artinya di penghujung tutup tahun 2006, Kota Sawahlunto telah menerima empat penghargaan. Seminggu sebelumnya, tepatnya 15 Desember 2006 lalu, Sawahluto juga diberikan dua penghargaan yakni Ksatria Bakti Husada Kartika yang diterima Walikota Amran Nur, dan penghargaan Manggala Karya Bakti Husada Arutara, yang diberikan kepada Ketua Tim Penggerak PKK Kota Sawahlunto, Ibu Hj.Emnidar Amran, BSc, atas komitmen dan dukungan yang diberikan PKK terhadap peningkatan pembangunan sektor kesehatan.
Sedangkan Ksatria Bakti Husada Kartika yang diterima Walikota Amran Nur, diberikan atas komitmen pemerintah daerah dalam pengembangan peningkatan pembangunan sarana prasarana kesehatan. Komitmen pemerintah Kota Kuali ini memang terlihat jelas, mulai dari peningkatan sarana prasarana RSUD hingga sarana dan prasarana pada pukesmas dan puskesmas pembantu.
RSUD Sawahlunto boleh dikatakan sudah mendapatkan nama baik di tengah masyarakat. Tidak hanya masyarakat Sawahlunto semata, namun daya tariknya membawa masyarakat dari daerah tetangga untuk berobat ke Sawahlunto. Memang, perubahan drastis terlihat jelas dalam tiga tahun terakhir, mulai dari sarana dan prasana serta SDM RSUD Sawahlunto semakin ditingkatkan.
Sementara itu, Kabag Humas Kota Sawahlunto, Syafruddin Syarif,S.Ag mengharapkan berbagai prestasi dan penghargaan yang diperoleh Sawahlunto dapat dijadikan support untuk mencapai Visi Sawahlunto menjadi Kota WisataTambang Berbudaya Tahun 2020.
Pencapaian visi pun bolh dikatakan mulai tercapai. Dimana prasarana wisata mulai lengkap, adanya taman safari mini dengan kebun binatangnya, water boom pertama di Sumatera, Danau Wisata Kandih, serta lapangan pacuan kuda, ditambah dengan museum, gudang ransum.
"Dukungan dan peran serta masyarakat merupakan bagian terbesar dalam keberhasilan Sawahlunto dalam mewujudkan berbagai program pembangunan. Terutama dalam membangun citra kota wisata tambang yang berbudaya," ujar Syafruddin.***